Menciptakan Konsep Green Living dengan Membangun Taman Vertikal di Dinding Pagar

rsz_giardino_verticalerozzano3

Menciptakan Konsep Green Living dengan
Membangun Taman Vertikal di Dinding Pagar

Fitri Umiati – 12513015
Mata Kuliah – Konsep Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Universitas Islam Indonesia
Jalan Kaliurang Km 14,4 Sleman, Yogyakarta, 55584
email: fitriumiati32@gmail.com
 

Abstrak

Beberapa dekade terakhir, dunia semakin dihadapkan dengan banyaknya isu – isu lingkungan yang terjadi. Tak bisa dipungkiri jika isu tersebut disebabkan oleh kegiatan industri yang semakin berkembang pesat. Secara tidak langsung, pabrik – pabrik industri merupakan penyumbang gas emisi terbesar di dunia yang dapat menyebabkan efek rumah kaca hingga pemanasan global. Kritisnya dunia semakin kekurangan lahan hijau, sehingga untuk menciptakan ruang hijau yang kecil saja sangat sulit. Sudah beberapa tahun ini, banyak industri properti yang menawarkan konsep green living. Tujuannya untuk memberikan suasana hijau dengan kualitas lingkungan yang jauh dari berbagai polusi. Green living itu sendiri merupakan metode dengan menciptakan lebih banyak ruang hijau. Salah satu cara mengatasi masalah ruang hijau dapat dilakukan dengan menciptakan taman vertikal di dinding – dinding pagar. Taman vertikal ini tidak memerlukan lahan yang luas, cukup memanfaatkan dinding kosong yang biasanya tidak dirawat dan hanya ditumbuhi lumut. Berdasarkan permasalahan tersebut, taman vertikal dapat dijadikan solusi yang tepat. Berbagai sumber pustaka banyak yang memberikan nilai positif dari taman vertikal. Bahan, alat dan teknik pembuatan taman yang tidak rumit menjadikan taman vertikal dapat diperuntungkan oleh siapa saja. Selain itu, manfaat yang diberikan untuk lingkungan mulai dari udara hingga pengatur suhu merupakan point plus untuk taman vertikal.

Kata kunci: Green living, Taman Vertikal

1.      Latar Belakang

Pemanasan global (global warming) merupakan isu yang paling hangat dibicarakan masyarakat di dunia saat ini. Seluruh dunia bersama – sama mencari solusi terbaik atas fenomena perubahan iklim (climate change) yang terjadi akibat pemanasan global secara terus menerus dalam waktu yang lama ini. Sejak tahun 1995, dunia internasional melakukan pertemuan rutin setiap tahun untuk membahas berbagai hal yang berkaitan dengan perubahan iklim, termasuk solusi yang harus dilakukan. Akhirnya, pada tanggal 11 Desember 1997 Protokol Kyoto diadopsi dalam konferensi ketiga para pihak (COP3) UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) di Kyoto, Jepang. Protokol tersebut resmi berkekuatan hukum secara internasional pada tanggal 16 Februari 2005 setelah diratifikasi oleh 141 negara yang mewakili 61% dari seluruh emisi. Indonesia sendiri telah meratifikasi protokol tersebut pada tanggal 3 Desember 2004 melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change. Selain itu, konferensi Center For International Forestry Research (CIFOR) yang diadakan pada tanggal 27 September 2011 mendiskusikan masa depan hutan di dunia termasuk hutan di Indonesia yang merupakan hutan terbesar ketiga di dunia dan telah ditetapkan sebagai paru – paru dunia. Hutan secara tidak langsung memberikan pengaruh yang sangat besar bagi bumi. Dengan adanya hutan, polusi udara dapat dinetralisir, hutan dapat mengatur suhu bumi, hutan dapat menyimpan cadangan air bumi. Ini membuktikan bahwa bumi membutuhkan hutan dan ruang hijau sebagai penopangnya.

Menurut data hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan setiap tahun emisi gas selalu mengalami peningkatan. Emisi CO2 yang dihasilkan dari konsumsi energi sektor rumah tangga diperkirakan rata-rata mencapai 178 juta ton per tahun dan kontribusi terbesar berasal dari penggunaan biomasa. Sektor industri merupakan pengguna energi terbesar kedua setelah sektor rumah tangga. Jenis bahan bakar utama yang digunakan sektor industri ini adalah biomasa, batubara, dan gas. Semakin mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) menyebabkan konsumsi batubara untuk industri meningkat tajam sejak tahun 2004 hingga mencapai 154 juta ton. Peningkatan emisi CO2 ini disebabkan oleh meningkatnya konsumsi batubara. Pada tahun 2007 konsumsi batubara untuk industri tercatat mencapai 120 juta SBM.

Adanya ruang terbuka hijau di perkotaan dapat dijadikan sebagai salah satu idikator kondisi lingkungan. Faktor lingkungan di perkotaan pada dasarnya sangat erat dengan masalah pencemaran. Apabila usaha pengendalian pencemaran dilakukan dengan konsep pembangunan hutan kota, maka cemaran CO2 merupakan kriteria yang harus digunakan sebagai standar. O2 merupakan parameter yang sangat erat kaitannya dengan CO2 dalam produksi biomassa pohon. Oleh karenannya jumlah kebutuhan O2 manusia, jumlah kebutuhan O2 ternak, dan jumlah kebutuhan O2 kendaraan bermotor dapat dijadikan indikator penentuan luas hutan setiap kota yang ideal.

Sejalan perubahan yang tampak terjadi di alam ini, mengakibatkan peningkatan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya kualitas lingkungan menjadi lebih baik. Mereka tidak ingin merasakan dan menambah berbagai kerusakan. Gerakan ramah lingkungan (Eco Friendly) dan menghijaukan bumi (Green living) sudah menjadi gaya hidup di negara – negara maju dimana masyarakatnya sudah sangat menyadari akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat. Green living itu sendiri merupakan konsep yang digalakan pemerintah untuk mendukung program stop global warming yang sedang gencar – gencarnya disosialisasikan. Selama ini orang beranggapan untuk menciptakan sebuah lingkungan yang hijau dibutuhkan lahan yang luas guna ditanami berbagai jenis tanaman. Oleh karena itu,  konsep lahan sempit namun  bisa untuk menciptakan lingkungan hijau sangat dibutuhkan.

Para ahli botani pun terus mencoba menciptakan desain hijau seperti konsep green living ditengah krisis lahan yang semakin terbatas akibat peningkatan jumlah bangunan di dunia. Salah satunya ahli botani Prancis, Patrick Blanc, yang membuat model dinding hijau tanpa tanah buatan dengan sistem irigasi otomatis yang telah dijadikan cetak biru berbagai proyek taman vertikal publik maupun pribadi. Bahkan perusahaan Inggris Biotecture mengembangkan sistem modular dengan penghematan air menggunakan serat wol, bukan laken. Hasilnya bisa dilihat dari dinding – dinding yang dibuat Green living Technologies berbasis di AS yang dapat menghasilkan sayuran berdaun hijau dan tanaman – tanaman pertanian seperti wortel.

Selain menerapkan konsep green living seperti taman vertikal sebagai alat untuk menciptakan hunian hijau yang asri, selama ini masyarakat menggunakan pot yang diberi tanah dan tanaman, namun kelemahannya dibutuhkan ruang yang luas. Masalah yang terjadi adalah ketika ruang hijau sudah mulai berkurang karena tergusur pembangunan rumah bahkan gedung – gedung yang menjulang tinggi. Sebelumnya, ahli botani juga pernah mengembangkan cara hydroponic yang dikenal sebagai soiless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah. Seiring waktu, cara hydroponic tidak terlalu banyak digunakan karena jika menanam harus mengenal jenis tanaman yang cocok ditanam tanpa tanah dan perawatannya sedikit susah, sehingga kebanyakan orang tetap memilih media tanam menggunakan tanah. Saat ini selain metode tanam, design tanam yang semakin beragam juga terus dikembangkan, yaitu taman vertikal yang lebih unggul dalam pemanfaatan lahan yang lebih efisien.

Konsep maupun tema green living sebagian telah banyak diterapkan disetiap pembangunan gedung maupun residence. Unsur green living yang paling sederhana diterapkan, yaitu dengan adanya tumbuhan hijau disekitar perkarangan rumah maupun kawasan pembangunan. Namun kenyataannya terkadang konsep maupun tema tersebut hanya dijadikan cover pembangunan. Seringkali di awal proyek terlihat adanya usaha green living, setelah beberapa tahun tanaman tersebut sudah tidak tampak terawat bahkan mati. Hal ini membuat masyarakat harus berpikir mencari solusi untuk menciptakan suasana hijau bagi yang tidak mempunyai lahan kosong yang luas serta dapat secara otomatis terawat. Dengan beberapa latar belakang diatas penulis mencoba menerapkan cara yang sederhana untuk menciptakan green living di lahan yang sempit, sehingga penulis memilih judul “Menciptakan Konsep Green living dengan Membangun Taman Vertikal di Dinding Pagar”.

2.      Studi Pustaka

2.1  Green living

Gaya hidup hijau atau “go green” berarti suatu tindakan atau gaya hidup berpola ramah lingkungan. Gaya hidup ini berupa tindakan dan kegiatan hidup sehari – hari untuk beralih ke energi berkelanjutan, beralih ke pola konsumsi ramah lingkungan, menanam pohon, menghemat sumber daya alam, serta tindakan lainnya yang bertanggung jawab terhadap ekosistem sehingga dapat melindungi lingkungan dan mempertahankan sumber daya alam untuk kelangsungan hidup generasi saat ini maupun generasi mendatang. Lingkungan yang hijau, nyaman, dan bebas dari polusi seperti sungai yang bersih, udara yang segar, jalanan yang rapi dan bebas dari sampah, masyarakat yang disiplin, lingkungan yang damai, penduduk yang sehat, serta sikap penuh kasih sayang antara sesama manusia maupun hewan mungkin menjadi impian bagi semua orang. Inilah lingkungan hidup yang dapat disetarakan dengan surga di atas bumi. Untuk mewujudkannya, kita harus turut menjaga unsur – unsur utama yang ada di bumi ini, yaitu air, tanah, dan udara (Team SOS: 2011)

Menerapkan etika hijau tidak berarti kita lantas harus meninggalkan gaya hidup modern dan kembali ke gaya hidup suku – suku pedalaman yang kuno dan ketinggalan zaman. Kita tetap bisa menerapkan perilaku ramah lingkungan dengan gaya hidup yang modern. Justru seharusnya penerapan etika lingkungan menjadi cerminan gaya hidup manusia modern masa kini (Uno dan Gretiani: 2011)

Salah satu usaha untuk mengurangi efek pemanasan global adalah melakukan reforestasi atau menghijaukan hutan yang gundul dan menanam pohon yang dapat menyerap karbondioksida, terutama penghijauan kembali hutan tropis sebagai paru – paru bumi. Sayang usaha seperti ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Contohnya penanaman pohon di Taman Nasional Gunung Elgon, di timur Uganda (Rusbiantoro: 2008)

2.2 Taman Vertikal

Di negara subtropis terdapat keterbatasan iklim untuk bertanam di udara terbuka atau luar ruangan, sehingga teknologi rumah kaca berkembang secara pesat. Model yang diterapkan memiliki berbagai bentuk , dari yang sederhana untuk keperluan kebun pribadi hingga yang super modern untuk kebutuhan produksi tanaman secara komersial. Pemanfaatan teknik vertikultur di dalam rumah kaca memungkinkan untuk dapat berkebun dengan memanfaatkan ruang di dalamnya semaksimal mungkin. Selain itu, dapat diproduksi berbagai tanaman yang dibutuhkan atau disukai. Taman vertikal ini secara estetika dapat digunakan sebagai pembatas pemandangan yang tidak disukai, sebagai latar belakang yang menyuguhkan berbagai warna, atau sebagai display atau tempat memamerkan tanaman komersial (Astuti, dkk: 2003)

Tata penghijauan ini melindungi bagian lain dari bangunan, misalnya pada bagian muka (fasade) bangunan yang mempunyai teras atau balkon (tanaman pot pada teras), pot gantung, tanaman merambat pada permukaan dinding, dan penanaman pada bagian bangunan lainnya yang memungkinkan untuk meletakkan tanaman (kanopi, koridor). Penghijauan rumah dalam arti luas adalah segala upaya untuk memulihkan, memelihara, dan meningkatkan kondisi lahan, dinding dan atap agar dapat dimanfaatkan secara optimal, baik sebagai pengatur tata air, suhu, pencemaran udara atau pelindung lingkungan (Feriadi dan Frick: 2008)

3.      Metodologi Penulisan

3.1  Metode Pengumpulan Data

Metode dalam pengumpulan data menggunakan metode studi pustaka, yaitu segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia, dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik lain.

Dalam pengumpulan data, penulis lebih banyak menggunakan buku – buku dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik sebagai referensi. Salah satu sumbernya adalah majalah National Geographic edisi November 2012. Di dalam buku tersebut disajikan informasi mengenai sistem dan pemikiran ahli biotani yang menggagas ide konsep taman vertikal. Penulis juga mamanfaatkan data perhitungan persentase luas ruang terbuka hijau yang dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dalam bidang kehutanan sering digunakan terutama dalam perencanaan kehutanan. Dengan menggunakan data berupa citra satelit (Landsat TM), peta dasar yang dikelola dengan menggunakan sistem berbasis komputer menjadikan SIG sebagai teknologi yang memeberikan kemudahan dan pemahaman yang baik bagi setiap perencana dan peneliti yang menggunakannya. SIG akan mempermudah dalam perhitungan ruang terbuka hijau yang ideal di beberapa kawasan daerah.

3.2  Metode Analisis Data

Metode yang digunakan untuk penulisan ini adalah deskriptif kualitatif, maksudnya suatu bentuk penelitian yang ditunjukkan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena ini bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lain. Dalam hal ini penulis memaparkan tentang taman vertikal, tujuan, manfaat dan cara kerjanya. Membandingkan taman vertikal dan horizontal dari segi efisien lahan dan kepraktisannya.

4.  Pembahasan

Ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan merupakan bagian dari penataan ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijau pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olahraga dan kawasan hijau pekarangan. Ruang terbuka hijau adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area horizontal/vertikal. Pemanfatan ruang terbuka hijau lebih bersifat pengisian tanaman hijau atau tumbuh-tumbuhan secara alamiah ataupun buatan.

Menurunnya kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik yang ada di perkotaan, baik berupa ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka non-hijau telah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti seringnya terjadi banjir di perkotaan dan tingginya polusi udara akibat padatnya kendaraan. Kecenderungan terjadinya penurunan kualitas ruang terbuka publik, terutama ruang terbuka hijau (RTH) pada 30 tahun terakhir sangat signifikan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung, luasan RTH telah berkurang dari 35% pada awal tahun 1970an menjadi kurang dari 10% pada saat ini. RTH yang ada sebagian bersar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan seperti jaringan jalan, gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan kawasan permukiman baru. Jakarta dengan luas RTH sekitar 9 persen, memiliki rasio RTH per kapita sekitar 7.08 m2, relatif masih lebih rendah dari kota-kota lain di dunia. Taman- taman dan lahan kosong yang nampak di wajah Jakarta berubah menjadi taman-taman beton. Padahal dalam UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah mengamatkan mengenai luas ruang terbuka hijau (RTH). Dalam UU tersebut disebutkan bahwa RTH harus 30% dari luas wilayah, yakni terdiri dari 20% RTH Publik dan 10% RTH privat. Dari 30% RTH yang telah ditetapkan, saat ini baru 9,8% RTH yang terdapat di Jakarta.Sedangkan, untuk menambah sekitar 1% RTH diperlukan luas lahan enam kali Kawasan Monas. Sebenarnya potensi RTH di DKI Jakarta mencapai 16%, namun disadari bahwa pembangunan mall yang banyak memakan lahan dan tetapi dapat memberikan masukan bagi daerah. Karena investasi diperlukan bagi daerah. Namun pembangunannya tetap harus sesuai dengan RTH Wilayah. Solusi yang tepat memang dengan cara membangun taman vertikal untuk memenuhi target RTH.

Taman vertikal di perkotaan dapat dijadikan sebagai contoh hutan kota yang merupakan bagian dari ruang terbuka hijau kota dengan kebutuhan lahan yang tidak luas, cukup memanfaatkan dinding – dinding, keberadaannya memiliki makna mengamankan ekosistem alam yang besar pengaruhnya terhadap eksistensi dan kelangsungan hidup kota itu sendiri. Manfaat keberadaan hutan kota tak jauh berbeda dari taman vertikal, yaitu untuk memperbaiki lingkungan dan menjaga iklim, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota, sehingga pembangunan dapat berjalan seiring sejalan dengan aspek kelestarian lingkungan.

Taman vertikal dapat diimplementasikan pada setiap dinding, tanpa ukuran atau batasan ketinggian. Sistem media tanam untuk proyek taman vertikal ini menggunakan 3 bagian, yaitu bingkai logam tabung perancah, lapisan PVC dan lapisan poliamida. Alat dan bahan ini disusun di bagian luar dinding. Model dinding vertikal ini tanpa tanah buatan dan memiliki sistem irigasi otomatis yang telah dijadikan cetak biru berbagai proyek taman vertikal publik maupun pribadi. Bahkan perusahaan Inggris Biotecture mengembangkan sistem modular dengan penghematan air menggunakan serat wol, bukan laken. Sajian dinding vertikal yang subur dapat ditemui di sebuah pusat budaya di Madrid yang telah membuat taman di sepanjang ruang kosong. Sehingga menjadikan kota ini sebagai contoh kota hijau.

Langkah awal pengerjaan, di bagian dinding luar dipasang sebuah perancah yang digantung di dinding atau dapat berdiri sendiri. Ini memberikan lapisan udara yang bertindak sebagai sistem isolasi suhu yang sangat efisien dan sebagai struktur penyangga material yang biasanya berbentuk suatu sistem modular dari pipa atau logam tabung, dalam hal ini kita menggunakan logam tabung. Di beberapa negara Asia, seperti RRC dan Indonesia bahkan masih menggunakan bambu sebagai perancah.

Lalu, dipasang lembaran PVC yang terpaku di bingkai logam. Lapisan ini membawa kekakuan untuk seluruh struktur dan membuatnya tahan air. Selanjutnya, pasang dua sekat poliamida dengan cara dijepit pada PVC. Lapisan ini terasa sangat berdaya kapilaritas tinggi yang memungkinkan distribusi air hara secara homogen dan dapat menjamin kesuburan pada semua tanaman.

Setelah bahan tersusun semua, lalu kita membuat aliran air atau keran untuk menyirami tanaman secara berkala. Penyiraman dilakukan dari atas. Jika menggunakan air keran, maka harus dilengkapi dengan rendah nutrisi yang terkonsentrasi. Ada langkah untuk kita dapat melakukan penghematan air, tentu saja solusi terbaik adalah dengan mendaur ulang air yang digunakan, seperti membuat tampungan air dan mengumpulkan hujan dari atap yang berdekatan serta air yang dikeluarkan dari udara pengkondisian. Salah satu yang harus dipastikan adalah pemilihan spesies tanaman yang diatur sesuai dengan kondisi iklim yang berlaku. Sangat mudah bagi Indonesia memilih tanaman karena beriklim tropis.

Tujuan taman ini adalah memanfaatkan ruang kosong pada dinding pagar, bisa pada dinding pagar rumah maupun pagar pembatas di pinggir jalan karena seringkali kita menemukan dinding – dinding pagar yang kosong dipenuhi coret – coretan yang tidak jelas bahkan sampai ada yang lumutan. Menurut estetika, sebenarnya dinding tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pembatas yang indah dengan cara membuat dinding tersebut menjadi taman vertikal yang penuh dengan corak – corak indah. Selain menambah keindahan, taman vertikal dapat memperkokoh dinding memlalui akar yang menempel di dinding. Taman vertikal juga memberikan efisiensi pada lahan serta membantu menciptakan lahan hijau yang tidak harus secara horizontal dengan lahan yang sangat luas.

Dinding – dinding yang dibuat Green living Technologies berbasis di Amerika Serikat ini juga hingg menghasilkan sayuran – sayuran berdaun hijau dan tanaman – tanaman pertanian seperti wortel dan strawberry. Sehingga tak heran jika negara – negara maju terus mengembangkan proyek ini. Jika Indonesia menerapkan taman vertikal di setiap kota, mungkin kota – kota di Indonesia akan lebih tampak hijau dan segar. Apalagi Indonesia telah didukung dengan iklim tropis dengan  pencahayaan sinar matahari sepanjang tahun. Jadi tidak perlu susah memilih jenis tanaman yang cocok dengan iklim dan suhu.

Taman vertikal di dinding beton dapat dijadikan tempat berlindung bagi keanekaragaman hayati serta membersihkan sistem udara diperkotaan. Selain itu, berkat efek isolasi termalnya, taman vertikal sangat efisien dan membantu dalam menurunkan konsumsi energi seperti peggunaan Air Coditioner (AC) karena saat di musim dingin dapat melindungi bangunan dari dingin dan di musim panas dapat menyediakan sistem pendinginan alami. Taman vertikal juga merupakan cara yang efisien untuk membersihkan udara dari polusi. Selain daun yang terkenal sebagai penyaring udara, akar dan semua mikro-organisme yang terkait juga bertindak sebagai ekosistem pembersih udara yang luas. Partikel polusi yang diambil dari udara secara perlahan-lahan akan membusuk dan melakukan mineralisasi sebelum berakhir sebagai pupuk tanaman. Dengan demikian taman vertikal merupakan alat yang efisien untuk perbaikan udara dan air di mana pun permukaan datar (horizontal) sudah banyak digunakan oleh kegiatan manusia.

Taman Vertikal memungkinkan manusia untuk menciptakan kembali sebuah sistem tanaman hidup yang sangat mirip dengan alami lingkungan. Ini adalah cara untuk menambahkan alam ke tempat-tempat di mana orang tidak mengenal hijaunya taman. Berkat pengetahuan botani dan pengalaman jangka panjang, sekarang siapapun dapat menambilkan pemandangan alami tanaman meskipun mereka adalah buatan manusia. Di setiap kota, di seluruh dunia, dinding yang semula hanya ruang kosong dapat berubah menjadi taman vertikal dan dengan demikian menjadi tempat penampungan berharga bagi keanekaragaman hayati. Ini juga merupakan cara untuk menambahkan alam untuk kehidupan sehari-hari penduduk kota.

 Untitled

Gambar 1. Sistem Taman Vertikal (National Geographic)

sDBR8p5GQ9

Gambar 2. Pusat Budaya di Madrid

5.  Kesimpulan dan Saran

 5.1  Kesimpulan

–       Sistem taman vertikal sangat membantu dalam menciptakan Ruang Taman Hijau (RTH) dengan konsep green living di kawasan yang minim ruang ataupun lahan dengan cara memanfaatkan ruang kosong pada dinding pagar atau dinding pembatas lahan.

–       Pembangunan taman vertikal ini tidak terlalu rumit karena kita hanya menambahkan beberapa bahan dan alat, seperti sekat poliamida, PVC kertas, tabung perancah di bagian dinding untuk menopang tanaman.

–       Sistem irigasi tanaman juga bisa diatur otomatis dengan memanfaatkan kembali air dari bekas siraman tanaman itu sendiri yang telah ditampung agar dapat digunakan lagi, sehingga di dalam air siraman terdapat zat hara yang dapat menyuburkan tanaman. Serta partikel polusi yang hinggap di tanaman dapat perlahan – lahan membusuk dan mengalami mineralisasi sehingga dapat menjadi pupuk tanaman. Hal ini dapat menghemat biaya pembelian pupuk untuk tanaman tersebut.

–       Taman vertikal dapat memberikan efek isolasi termal seperti pengatur suhu, yaitu ketika di musim dingin tanaman dapat melindungi bangunan dinding dari dingin dan di musim panas tanaman dapat menyediakan sistem pendinginan alami, sehingga dinding bisa lebih kokoh dan tidak rapuh.

–       Sebagai sarana untuk kita membudidayakan keanekaragaman hayati, serta taman vertikal dapat dijadikan sebagai lahan bercocok tanam yang dapat mendatangkan keuntungan. Contohnya bisa digunakan bertanam sayur dan buah – buahan, seperti wortel dan strawberry.

–       Mencegah dinding di kota menjadi tempat coret – coret yang dapat mendatangkan kesan kotor pada kota. Taman vertikal dapat dijadikan solusi untuk menambah estetika keindahan dari warna – warna dan jenis tumbuhan yang ditanam di dinding.

–       Taman vertikal dapat dibangun dimana saja di Indonesia karena iklim Indonesia yang tropis, sehingga mudah bagi tanaman apa saja untuk mendapatkan penyinaran matahari setiap hari.

5.2  Saran

–       Bagi pemerintah sebaiknya dapat mengkoordinasikan kepada dinas penataan kota di setiap daerah agar dapat memanfaatkan ruang kosong pada dinding – dinding di pinggir jalan untuk dibangun taman vertikal, selain menambah keindahan kota juga dapat dijadikan sebagai alat penyerap debu dan udara kotor dari kendaraan, sehingga kualitas udara di kawasan kota lebih baik.

–      Terkait dengan Hari Tata Ruang (Hataru) tanggal 8 November 2012, yaitu mewujudkan kota hijau untuk kehidupan yang berkualitas. Sesuai dengan tema Hataru 2012 yakni Green City for Better Life. Semoga taman vertikal dapat dijadikan sebagai solusi kota demi mewujudkan hijaunya lingkungan. Hijau disini diartikan terpenuhinya ruang terbuka hijau, dan bangunan yang hemat energi, tidak berlebihan menggunakan AC.

–       Pembangunan yang terintegrasi jangan hanya memikirkan satu aspek saja seperti ekonomi atau sosial, tetapi segala aspek diperhatikan termasuk lingkungan. Pembangunan era sekarang tidak saja melihat keuntungan ekonomi tetapi keuntungan ekologi juga harus diperhatikan. Pembangunan kota tidak saja mementingkan pembangunan gedung-gedung dan kawasan industri tetapi kegiatan penghijauan kota juga diperhatikan sehingga pembangunan kota harus direncanakan dengan terarah dan terpadu. Dalam mencapai hal ini sarana dan media diperlukan agar pelaksanaannya baik.

–       Bagi masyarakat sebaiknya juga dapat mencoba membuat taman vertikal sendiri yang lebih sederhana agar menambah estetika di rumah serta banyak manfaatnya, seperti sebagai penutup bagian dinding yang tidak enak dipandang, atau sebagai penghias latar yang menyuguhkan pemandangan indah dengan berbagai warna daun dan bunga sekaligus bisa untuk menerapkan kebun organik yang bebas dari zat – zat pestisida terlalu banyak, sehingga bisa memetik sayur dan buah yang sehat dari kebun pribadi.

Daftar Pustaka

Astuti, Yuni., Fauzy, Farida, dan Endah Joesi (2003). Vertikultur: Bertanam di Lahan Sempit. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Feriadi, Henry dan Frick, Heinz (2008). Atap Bertanaman Ekologis dan Fungsional. Kanisius. Yogyakarta.

Rusbiantoro, Dadang (2008). Global Warming From Beginner. O₂. Yogyakarta.

Team SOS (2011). Pemanasan Global: Solusi dan Peluang Bisnis. PT Gramedia. Jakarta.

Uno, Mien R., Gretiani, Siti (2011). Buku Pintar Etika Hijau. PT Gramedia. Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s