Pengelolaan Berkelanjutan Terhadap Terumbu Karang (Coral Reefs) di Laut Natuna, Kepulauan Riau

Pengelolaan Berkelanjutan Terhadap
Terumbu Karang (Coral Reefs) di Laut Natuna, Kepulauan Riau

Fitri Umiati – 12513015
Mata Kuliah – Ilmu Lingkungan
Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Universitas Islam Indonesia
Jalan Kaliurang Km 14,4 Sleman, Yogyakarta, 55584
email: fitriumiati32@gmail.com

Abstrak

Beberapa tahun belakangan ini, konsumsi sajian bahari sangat mendominasi dikalangan masyarakat. Semakin hari semakin mudah untuk menjumpai restoran yang menghidangkan berbagai jenis ikan, bahkan ikan hiu sang predator. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kompetisi tangkap bagi nelayan yang semakin bersaing sehingga bermunculan nelayan illegal. Nelayan illegal ini dapat mengancam ekosistem laut karena menggunakan cara pemancingan ikan yang dilarang pemerintah, seperti bom dan sianida potassium. Cara tersebut dapat menghancurkan siklus perkembangbiakan ikan muda dan terumbu karang sebagai produsen sehingga secara tidak langsung mengancam putusnya rantai makanan pada ekosistem laut. Hal yang dikhawatirkan, yaitu apabila terumbu karang mati maka perbaikannya membutuhkan jangka waktu yang panjang. Padahal 15% terumbu karang di dunia berada di Indonesia dan 58% ikan Tuna berasal dari Samudera Pasifik, sedangkan tuna di Laut Natuna termasuk tuna terbaik di dunia. Kondisi seperti ini akan menurunkan populasi setiap anggota rantai makanan, seperti fitoplankton, zooplankton, hewan laut kecil, hewan laut besar, predator dan dekomposer. Berdasarkan hal tersebut, paper ini bertujuan untuk mensosialisasikan agar manusia mengontrol kegiatan di laut agar terumbu karang dan spesies lainnya terjaga sehingga rantai makanan di laut tetap berjalan. Rekomendasi usaha yang dapat dilakukan, yaitu mengorganisasi nelayan dan eksportir illegal, memberikan pembekalan tentang sistem nelayan, dan melarang memancing dengan menggunakan phukat. Apabila usaha yang dilakukan dapat terwujud, maka dapat terjaga keseimbangan rantai makanan pada ekosistem laut.

1.      Latar Belakang

Saat ini semua orang di dunia mulai memanjakan perutnya dengan makanan laut. Tak heran jika saat ini sangat mudah menemukan restoran – restoran yang menyajikan makanan laut dengan beragam jenis ikan, bahkan menu utama sang predator ikan hiu. Hal ini dianggap lumrah karena setiap orang membutuhkan protein dan omega yang sangat banyak terkandung di dalam ikan. Namun hal ini menjadi peringatan ketika kebutuhan akan ikan menjadi luar biasa banyaknya (overload). Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), konsumsi ikan pada tahun 2010 sebanyak 30,47 pada tahun 2011 sebanyak 31,64 dan pada tahun 2012 sebanyak 33,89 per kapita (kg/kap/th). Angka ini menunjukkan meningkatnya minat mengkonsumsi ikan dan sekaligus menunjukkan kekhawatiran bagi kita dan ekosistem laut, khususnya kawasan terumbu karang di Indonesia.

Seiring permintaan dan naiknya harga hidangan laut setiap tahun seharusnya menjadi keuntungan bagi Indonesia yang memiliki sumber daya kelautan yang luas. Namun hal tersebut berpengaruh sebaliknya. Konsumsi yang berlebih memicu kerugian, yaitu kerusakan ekosistem terumbu karang. Ikan yang seharusnya diberi ruang untuk bertelur dan beranak (memijah), kini ditangkap dan disajikan sebagai pemuas perut berjuta – juta orang di dunia. Sehingga tak heran jika persediaan ikan terus menipis akibat penangkapan yang berlebihan (overfishing). Dalih dengan alasan memenuhi kebutuhan ekonomi yang memaksa para nelayan menangkap seluruh ikan tangkapannya tanpa terkecuali ikan yang masih muda. Hal ini didukung dengan semakin bertambahnya jumlah nelayan illegal yang sangat merugikan ekosistem terumbu.

Sejak zaman kerajaan Sriwijaya, Indonesia terkenal sebagai negara maritim yang memilki sumber daya kelautan yang luas dan berpotensi sangat besar. Sejak diterimanya Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) pada tahun 1982, laut Indonesia bertambah luas dari tambahan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sebesar 2,7 juta kilometer persegi, menjadi total sekitar 5,8 juta kilometer persegi, dimana  Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di ZEE sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Indonesia atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Sehingga perairan Indonesia dijadikan sebagai salah satu urat nadi pelayaran dan perdagangan internasional. Selain itu, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.000 pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai mencapai hampir 81.000 km yang dilindungi oleh ekosistem terumbu karang. Melihat hal tersebut, tidak heran apabila hasil laut Indonesia sangat berlimpah. Ternyata 60 % penduduk Indonesia lebih banyak tinggal di daerah pesisir, maka terumbu karang merupakan tumpuan sumber penghidupan utama. Hasil data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan penyediaan ikan pada tahun 2011 sebanyak 10.282 ton sedangkan pada tahun 2012 sebanyak 13.493 ton. Angka menunjukkan peningkatan penyediaan ikan yang berarti adanya kegiatan menangkap ikan serta meningkatnya jumlah nelayan.

Kita harus ketahui bahwa kehidupan terumbu karang didasari oleh hubungan saling ketergantungan antara ribuan makhluk. Rantai makanan adalah salah satu dari bentuk hubungan tersebut. Hewan karang ini mempunyai tentakel (tangan-tangan) untuk menangkap plankton sebagai sumber makanannya. Namun, sumber nutrisi utama hewan karang sebenarnya berasal dari proses fotosintesa zooxanthellae (hampir 98%). Selain itu, zooxanthellae memberi warna pada hewan karang yang sebenarnya hampir transparan. Timbal baliknya, karang menyediakan tempat tinggal dan berlindung bagi sang alga, telur ikan dan hewan – hewan kecil. Tidak cuma itu proses terciptanya terumbu karang pun tidak mudah. Terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun hingga dapat tercipta secara utuh dan indah. Sedangkan yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam.

Salah satu kepulauan yang menyimpan banyak sumber ikan dan terumbu karang adalah kepulauan Natuna. Kepulauan ini juga memiliki terumbu karang yang sangat luas dan indah. Pada tahun 1980, kepulauan ini dinobatkan sebagai The Best Place oleh dunia. Namun sangat disayangkan, terumbu karang dan populasinya di Kepulauan Natuna ini mulai terancam. Kegiatan manusia, cuaca dan iklim mengakibatkan kerusakan bertambah parah. Banyak diantara terumbu karang menjadi putih dan akhirnya mati. Ini akan berdampak pada jumlah populasi ikan yang berkurang karena tidak adanya produsen makanan.

Saat ini yang sangat mengkhawatirkan adalah kegiatan illegal fishing yang semakin meningkat akibat permintaan pangsa pasar terhadap ikan dan seafood yang juga meningkat. Setiap hari kapal berbendera Vietnam dan Malaysia masuk ke ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif). Pada tanggal 28 Maret 2013, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelauatan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) menangkap enam unit kapal asing yang sedang menangkap ikan di peraiaran Natuna, Provinsi Kepri. Enam kapal asing itu masing-masing empat unit kapal ikan berbendera Malaysia dan dua unit kapal ikan berbendera Vietnam. Dipilihnya perairan Natuna sebagai tempat ilegal fishing karena kualitas ikan yang ditangkap sangat baik dan bermutu apabila dijual di Vietnam. Selain itu di laut Vietnam sudah susah menangkap ikan saat ini. Pencurian ikan ini tidak hanya merugikan secara material tetapi keseimbangan ekosistem laut.

Pemerintah sudah mengeluarkan dan mengatur kegiataan perikanan melalui UU No. 31 tahun 2004 tentang perikanan. Namun, tetap saja kegiatan illegal fishing terus terjadi di perairan Indonesia. Catatan kelam sepanjang 2012 terdapat 114 kapal asing masuk ke perairan Indonesia. Hal ini tampak terus terjadi di perairan Indonesia, denda 20 milliar yang dikenakan tidak pernah terbayarkan sehingga para ABK yang menanggung dengan hukuman penjara. Selain mengandalkan pemerintah, masyarakat harus bergerak sendiri menjaga kekayaan lautnya dari kerusakan. Hal ini membuat masyarakat harus berpikir mencari solusi untuk menjaga dan mengelolah kelestarian laut dan terumbu karangnya. Dengan beberapa latar belakang diatas penulis mencoba memberikan cara yang sederhana untuk mengelola kelestarian terumbu karang di Laut Natuna, sehingga penulis memilih judul “Pengelolaan Berkelanjutan Terhadap Terumbu Karang (Coral Reefs) di Laut Natuna, Kepulauan Riau”.

2.      Studi Pustaka

2.1 Pengelolaan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan dengan keberlanjutan ekologi adalah bahwa paradigam pembangunan berkelanjutan memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi sambil memberi perhatian secara proporsional kepada dua aspek lain, yaitu ekologi dan social budaya, sementara paradigma keberlanjutan ekologi justru mengutamakan pelestarian ekologi dengan tetap menjamin kualitas kehidupan ekonomi dan social budaya bagi masyarakat (Keraf : 2010)

Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah sebagai upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi kini serta generasi mendatang (Siahaan : 2004)

2.2 Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang sering dijuluki sebagai ‘rainforest of the ocean’ oleh karena tingginya produktivitasnya dalam menyediakan produk dan jasa lingkungan. Selain kontribusi menghasilkan bahan pangan dan sumber daya tidak terbarukan (karena tingkat regenerasi yang sangat lamban, bahkan mencapai jutaan tahun dalam kasus minyak bumi), ekosistem terumbu karang juga menyediakan jasa perlindungan kawasan pantai dan menjadi objek wisata (Aziz, Iwan J : 2010)

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang besimbiosis dengan sejenis alga yang disebut zooxanthellae. Hewan karang bentuknya aneh menyerupai batu  dan mempunyai warna dan bentuk yang beraneka rupa. Hewan ini disebut polip, merupakan hewan pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur. Polip- polip ini selama ribuan tahun membentuk terumbu karang. Zooxanthellaeadalah suatu jenis  algae yang bersimbiosis dalam jaringan karang. Zooxanthellaeini melakukan fotosintesis menghasilkan oksigen yang berguna untuk kehidupan hewan karang. Dilain pihak, hewan karang memberikan tempat perlindungan bagi Zooxanthellae ( Iyam : 2007 )

2.3 Laut Natuna, Kepulauan Riau

Laut Natuna merupakan bagian paling ujung utara Indonesia. Pulau Bunguran, Jemaja, dan Serasan merupakan tiga pulau terbesar di gugusan kepulauan ini. Kepulauan Natuna merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, dengan ibu kota Ranai di Pulau Bunguran, sebagai ibu kota kabupaten. Natuna dikelilingi laut dalam. Di ujung utara berbatasan langsung dengan perairan Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Singapura. Di perairan sekitar Natuna terdapat karang tak terduga yang tersebar di laut lepas. Tidak heran bila dulu banyak warga Vietnam dan Singapura yang terdampar di Pulau Natuna. Gugusan kepulauan Natuna juga memiliki pemandangan yang indah, dengan panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Natuna demikian elok dan memiliki banyak potensi. Pengunjung dapat menemukan wisata pantai. Sejumlah lokasi bahkan menjadi tempat favorit bagi penggemar snorkling, pengamat habitat penyu dan wisata bawah air (Yulianingsih : 2010)

Natuna dan gugusan Pulau – pulau Sekatung terletak di Laut Cina Selatan dan merupakan pulau terluar wilayah utara Indonesia yang berbatasan dengan Vietnam. Perundingan penetapan batas landas kontinen antara Indonesia dan Vietnam membuahkan kesepakatan sejak 26 Juni 2003. Namun penentuan batas ZEE belum disepakati. Dalam penetapan ZEE antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Malaysia, khususnya di Laut Natuna perlu dipertimbangkan kembali perjanjian penetapan landas kontinen antara kedua negara tahun 1969. Demikian juga perjanjian Indonesia dengan Malaysia 1981 tentang hak nelayan tradisional Malaysia di perairan Indonesia yang memisahkan Malaysia Barat dan Malaysia Timur (Purdijatno : 2010)

3.      Metodologi Penulisan

3.1 Metode Pengumpulan Data

Metode dalam pengumpulan data menggunakan metode studi pustaka, yaitu segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia, dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik lain.

Dalam pengumpulan data, penulis lebih banyak menggunakan buku – buku dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik sebagai referensi. Salah satu sumbernya adalah majalah National Geographic edisi November 2012. Di dalam buku tersebut disajikan informasi mengenai data dan perilaku masyarakat terhadap ekosistem laut. Penulis juga mamanfaatkan data perhitungan persentase dan statistika kelautan dan perikanan dalam angka 2011 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia. Data – data yang disajikan, yaitu statistika konsumsi ikan, statistika penyediaan ikan dan statistika ekspor dan impor hasil perikanan.

3.2 Metode Analisis Data

Metode yang digunakan untuk penulisan ini adalah deskriptif kualitatif, maksudnya suatu bentuk penelitian yang ditunjukkan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena ini bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lain. Dalam hal ini penulis memaparkan tentang terumbu karang di Kepulauan Natuna, permasalahan yang dihadapi saat ini, tujuan, manfaat dan solusinya. Memberikan informasi dampak yang akan terjadi apabila terumbu karang terus rusak.

4.      Pembahasan

Provinsi Kepri tergolong wilayah pesisir  sebagian besar wilayahnya  terdiri atas lautan yang mencapai 95,8 persen, dan 4,4 persen berupa  daratan dengan jumlah pulau sebanyak 2.408 buah. Dari sekian luas wilayah Provinsi  Kepri, 21,3 persennya   menjadi tempat hidup terumbu karang, salah satunya Pulau Natuna. Pulau Natuna memiliki luas sekitar 3.235,18 km2. Natuna berbatasan dengan negara Vietnam dan Kamboja di bagian utara serta Semenanjung Malaysia dan Pulau Bintan di bagian barat. Natuna memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Mulai dari kekayaan perikanan laut, tambang minyak dan gas alam cair, batu granit, perkebunan dan pertanian, alam pantai, serta keindahan panorama lautnya. Dari luas perairannya yang mencapai 97,7 persen (138.666 kilometer persegi), Natuna sangat kaya akan ikan laut. Sayangnya, kekayaan ikan di perairan Natuna justru dimanfaatkan oleh nelayan dengan menguras hasil laut menggunakan alat tangkap ikan berteknologi tinggi hingga berimbas pada kerusakan terumbu karang. Jajaran TNI Angkatan Laut seringkali menangkap kapal pencuri ikan di perairan Natuna dari Thailand, Vietnam maupun Malaysia. Berdasarkan laporan Satker PSDKP Batam, tindak pidana perikanan hingga April 2013 didominasi nelayan asal Vietnam.

Menurut nelayan – nelayan dari Vietnam, Thailand dan Malaysia kualitas ikan di perairan Natuna sangat baik dan jumlahnya banyak. Namun sangat disayangkan, perilaku nelayan dan masyarakat di kabupaten Natuna dan sekitarnya menyebabkan kondisi terumbu karang di Natuna mengalami ancaman yang sangat serius. Maka dari itu, Kabupaten Natuna menjadi bagian dalam Program Pengelolaan dan Rehabilitasi Terumbu Karang (Coremap). Penyebab lain seiring dengan berkembang pesatnya pembangunan dan tuntutan ekonomi di Kabupaten Natuna secara tidak langsung memberikan andil rusaknya terumbu karang. Hal ini terjadi karena banyaknya pembangunan tanpa memperhatikan kaidah lingkungan terutama kurangnya kesadaran pemerintah, pihak swasta (investor) dan masyarakat akan pentingnya keberadaan terumbu karang dalam kehidupan.

Terumbu karang (coral reefs) sebagai suatu ekosistem termasuk dalam organisme – organisme karang. Terumbu karang (coral reefs) merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) dari filum Coridaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan zooxantellae dan sedikit tambahan alga berkapur serta organisme lain yang menyereksi kalsium karbonat. Karang hermatipik (Hermatypic corals) yang bersimbiosis dengan alga melaksanakan fotosintesis, sehingga peranan cahaya sinar matahari penting sekali bagi Hermatypic corals. Hermatypic corals biasanya hidup di perairan pantai/laut yang cukup dangkal di mana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan, selain itu untuk hidup lebih baik terumbu karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25-32C.

Namun, saat ini kehidupan terumbu karang mulai terancam akibat aktivitas manusia. Overfishing yang dilakukakan manusia dapat membunuh satu spesies populasi ikan. Saat ini overfishing terhadap tuna sangat mengkhawatirkan karena sudah mencangkup pada tuna muda yang seharusnya dibiarkan untuk terus bertelur dan berkembangbiak. Padahal di dalam ekosistem laut harus ada keseimbangan populasi. Dalam ekosistem, terjadi sebuah proses yang dinamakan rantai makanan. Di dalam ekosistem laut terjadi proses makan dimakan di antara penghuni laut. Proses alur rantai makanan di laut, yaitu fitoplankton, zooplankton, hewan laut kecil, hewan laut besar, predator, dekomposer, dan kembali lagi ke fitoplankton. Fitoplankton adalah penyedia makanan di dalam rantai makanan di laut atau disebut juga produsen. Apabila salah satu anggota rantai makanan terputus atau punah maka akan terjadi ketidakseimbangan biota laut. Ketika biota laut tidak seimbang, alam akan tidak seimbang lagi karena akan ada kelebihan makhluk hidup yang akhirnya akan mengancam kehidupan manusia. Terumbu karang merupakan produsen tingkat satu dalam rantai makanan. Terumbu karang memiliki fungsi yang sangat besar dalam ekosistem laut. Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. Terumbu karang mempunyai diversitas biologi yang tinggi dan berfungsi sebagai tempat tumbuh, berlindung dan mencari makan bagi berbagai biota laut, dengan demikian keberadaan terumbu karang merupakan jaminan bagi kelangsungan hidup ikan-ikan karang dan organisme lain yang berasosiasi dengannya.

Kerusakan ekosistem terumbu karang tidak terlepas dari aktivitas manusia dan alam. Aktivitas yang di luar jalur, seperti penangkapan ikan dengan menggunakan bom, sianida potasium dan phukat mengakibatkan kerusakan bahkan kematian pada terumbu karang. Pada dasarnya bom yang mereka lemparkan ke dalam laut menimbulkan ledakan hingga mengenai dan akhirnya membunuh terumbu karang. Sedangkan penggunaan phukat menjadi dilarang karena para nelayan menggunakan phukat untuk menjaring ikan, namun terkadang jaring tersebut mengenai terumbu karang hingga terumbu karang tertarik ke dalam phukat. Padahal yang kita ketahui bahwa terumbu karang itu sangat sensitif apabila dirusak atau diambil sebuah saja, maka rusaklah keutuhannya. Para nelayan tidak pernah terpikirkan bahwa cara yang mereka gunakan akan membuat dampak besar. Saat ini hasil tangkapan mereka mencukupi tetapi suatu saat hasil tangkapan mereka akan menurun drastis apabila cara mereka tidak dihentikan. Beberapa pulau yang memiliki cadangan terumbu karang di dunia, kini mulai ada yang berangsur rusak dan ada juga yang mulai diperbaiki, seperti terumbu karang di Pulau Bali yang menjadi daerah konservasi (area dilindungi) yang berhasil direhabilitasi. Dunia mengeluarkan larangan memancing di kawasan Pasifik Barat degan phukat selama 2 tahun demi memperbaiki populasi ikan dan terumbu karang agar dapat pulih kembali. Sehingga saat ini 0,06% kawasan laut mulai dilindungi. Saat ini Pulau Natuna mulai terancam kerusakan bahkan kepunahan terumbu karang.

Selain permasalahan akibat aktivitas manusia, faktor kerusakan terumbu karang secara alami adalah disebabkan oleh adanya perubahan iklim global dan pemanasan global. El Nino merupakan gejala yang disebabkan karena iklim global. El Nino menyebabkan upwelling menjadi melemah, yaitu suatu kondisi dimana air laut dalam yang bersuhu rendah dan kaya akan nutrien naik ke permukaan. Akibatnya, permukaan air laut menjadi hangat dan kandungan nutrien menurun dan menumpuk di dasar laut, sehingga organisme disekitarnya tidak mendapatkan makanan (nutrien). Kejadian tersebut menjadi penyebab timbulnya coral bleaching, yaitu menjadi putihnya karang batu akibat kehilangan zooxantellae  yang akhirnya mengakibatkan kematian. Selain itu, gejala pemanasan global memicu terjadinya pencairan es di kutub yang menyebabkan peningkatan permukaan air laut. Selama ribuan tahun, permukaan air laut relatif stabil dan karang umumnya tumbuh pada kedalaman dangkal (zona fotik) sehingga peningkatan permukaan air laut dapat menyebabkan karang “tenggelam” ke area yang lebih dalam dan akibatnya lebih sedikit mendapatkan cahaya. Efek lain dari peningkatan permukaan air laut adalah peningkatan kekeruhan dan laju sedimentasi akibat erosi pantai.

Permasalahan ini harus segera diantisipasi agar dapat direhabilitasi. Prinsip dari rehabilitasi terumbu karang adalah menyambung rantai ekosistem yang hilang akibat kerusakan terumbu karang, rantai tersebut berupa substrat atau biotanya. Ada beberapa solusi untuk menciptakan proses berkelanjutan dan keseimbangan dalam ekosistem laut. Pertama, harus ada sosialisasi kepada penduduk setempat atau kepada para nelayan. Sosialisasi ini berisi tentang kriteria ikan yang boleh ditangkap karena apabila tidak ada pembatasan kriteria dalam penangkapan ikan dapat menyebabkan ikan muda yang masih produktif menjadi hancur siklus perkembangbiakannya sehingga terjadi ketidakseimbangan di dalam rantai makanan. Saat ini ikan tuna manjadi ikan terpopuler ke 2 di Amerika. Tak heran jika kompetisi tangkap semakin bersaing namun populasi semakin berkurang. Pola konsumsi kita yang menyukai ikan – ikan laut dalam seperti hiu dan tuna sebaiknya dikurangi karena populasi perkembangbiakannya tidak sebanyak ikan – ikan laut kecil.

Solusi yang kedua, yaitu dengan mensosialisasikan cara menangkap ikan yang berwawasan lingkungan. Ini berarti tanpa merusak habitat dan ekosistem bawah laut. Terkadang para nelayan menggunakan alat yang mereka pikir dapat menghasilkan tangkapan ikan dalam jumlah besar, tetapi mereka tidak mengetahui akibat yang dihasilkan. Contohnya saja penggunaan phukat yang dapat menghasilkan ikan dalam jumlah besar tetapi malah merusak terumbu karang karena terumbu karang terperangkap dalam jaring – jaring dan akibatnya terumbu karang rusak dan mati. Selain itu, penggunaan bom dan sianida potasium yang dapat merusak insang ikan. Penggunaan bom sangat merugikan, ketika terjadi ledakan maka yang ditimbulkan adalah kematian langsung pada terumbu karang.

Solusi yang ketiga, yaitu sebaiknya dilaksanakan operasi bersih setiap malam di Perairan Natuna untuk mencegah kapal asing atau illegal fishing masuk dan merugikan negara. Apabila tertangkap kapal asing yang masuk harus diberikan hukuman yang berat akibat pelanggaran mereka, apabila hanya diberi peringatan saja tidak akan ada efek jera bagi kapal asing yang nakal tersebut. Selain itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan harus mencegah dan menghentikan ekspor illegal yang dapat merugikan nelayan dan negara.

Rehabilitasi dan konservasi terhadap terumbu karang sangat diperlukan karena terumbu karang dapat mengurangi dampak dari pemanasan global. Terumbu karang dengan kondisi yang baik memiliki fungsi yang cukup luas, yaitu memecah ombak dan mengurangi erosi;. Terumbu karang juga berfungsi mengurangi karbon yang lepas ke atmosfer sehingga dapat mengurangi kerusakan ozon. Tetapi pada terumbu karang dengan kondisi jelek terjadi pengurangan kapur yang mengakibatkan turunnya permukan terumbu karang. Sehingga gelombang laut tidak dapat lagi di pecah oleh terumbu karang yang letaknya menjadi jauh dibawah permukanan laut. Lambat laut, gempuran gelombang laut mengerus dataran rendah menjadi laut. Sesungguhnya Indonesia yang  wilayahnya adalah lautan, juga memiliki fungsi dan peran cukup besar dalam mengikat emisi karbon bahkan dua kali lipat dari kapasitas hutan. Emisi karbon yang sampai ke laut, diserap oleh fitoplankton yang jumlahnya sangat banyak dilautan dan kemudian ditenggelamkan ke dasar laut atau diubah menjadi sumber energi ketika fitoplankton tersebut dimakan oleh ikan dan biota laut lainya.

Sudah saatnya kita mulai memperhatikan terumbu karang karena terumbu karang memungkinkan manusia untuk terus bertahan hidup dan menciptakan kembali sebuah sistem bagi alam, yaitu rantai makanan yang sangat apik. Hal tersebut juga cara untuk kita mencegah akhir samudera serta pemerintah wajib manyusun tata ruang dan pengelolaan wilayah pesisir dan laut untuk mempertahankan kelestarian ekosistem terumbu karang dan kelestarian fungsi ekologis terumbu karang. Bekerja sama dengan salah satu institusi yang mengembangkan program pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang, yaitu COREMAP yang menyampaikan informasi yang berimbang mengenai kondisi terumbu karang di Indonesia. Kemudian penggunaan slogan atau moto dalam program pengelolaan terumbu karang juga perlu mendapat perhatian khusus. Menjaga kelestarian terumbu karang bukan hanya menjadi tanggung jawab nelayan saja melainkan seluruh umat manusia di bumi ini.

rantaimakanan

Gambar. 1 Rantai Makanan dalam Ekosistem Laut

overfishing-overview-08022012-WEB_109842

Industrial fisheries of Orange roughy. Emptying a mesh full of Orange roughy into a trawler

skipjack-tuna-threatsHI_260578

Funae fishermen catching skipjack tuna near Manado Tua using anchovies as live bait. Manado, North Sulawesi, Indonesia. 23 October 2009

5.  Kesimpulan dan Saran

5.1  Kesimpulan

–       Terumbu karang adalah anggota rantai makanan yang sangat dibutuhkan sebagai produsen makanan dalam rantai makanan.

–       Terumbu karang merupakan merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat pulih kembali ( renewable ), namun kempuannya untuk pulih kembali sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang panjang.

–       Sistem pemancingan para nelayan dan perusahaan pemancingan harus dikontrol dan diperbaiki. Hal ini untuk mencegah keberlangsungan populasi ikan dan ekosistem laut.

–       Terumbu karang merupakan ekosistem perairan yang dijadikan sebagai rumah, pelindung, tempat mencari makan, memijah, dan berkembang biak berbagai biota laut. Namun, agar usaha rehabilitasi terumbu karang ini berjalan sesuai dengan tujuan maka perlu diperhatikan lokasi penurunan dan penempatannya di dasar laut serta perencanaan secara cermat sesuai dengan kondisi Hidro-Oceanografi.

–       Faktor alam, yaitu El Nino menyebabkan upwelling menjadi melemah yaitu suatu kondisi dimana air laut dalam yang bersuhu rendah dan kaya akan nutrien naik ke permukaan. Akibatnya, permukaan air laut menjadi hangat dan kandungan nutien rmenurun dan menumpuk didasar laut, sehingga organisme disekitarnya tidak mendapatkan makanan (nutrien). Kejadian tersebut menjadi penyebab timbulnya coral bleaching, yaitu menjadi putihnya karang batu akibat kehilangan zooxantellae  yang akhirnya mengakibatkan kematian karang batu di Kepulauan Natuna.

–       Tindakan yang tegas dari petugas penjaga perbatasan untuk mencegah terjadinya pemancingan ilegal dari negara lain, seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand. Peningkatan patroli kawasan dilakukan setiap malam.

–       Terumbu karang banyak terdapat di kawasan Asia karena iklim Asia yang cenderung tropis sehingga cahaya matahari dapat menembus masuk ke dalam perairan dan dimanfaatkan untuk terumbu karang berfotosintesis.

–       Indonesia masuk dalam bagian Coral Triangle di dunia. Negara negara yang mencakup segitiga terumbu karang  adalah: Filipina. Indonesia. Papua Nugini. Malaysia. Timor Leste, Kepulauan Solomon. Indonesia terletak dalam jantung kawasan segitiga karang dunia (heart of global coral triangle).

5.2 Saran

–       Bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sebaiknya dapat lebih mempertegas batasan – batasan dalam mengeksploitasi hasil laut dan ekspor hasil laut Indonesia agar hasil laut Indonesia dapat mencukupi bagi masyarakat di dalam negeri sendiri.

–       Bagi pemerintah sebaiknya dapat mengkoordinasikan kepada dinas kelautan dan perikanan di setiap masing – masing daerah agar dapat memberikan sosialisasi tentang sistem pemancingan yang berwawasan lingkungan dan mengawasi pangsa pasar perikanan agar kesejahteraan nelayan terjamin.

–       Terkait dengan Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) tanggal 8 Juni 2013, yaitu melestarikan kehidupan bawah laut dan permukaan laut untuk kehidupan yang berkualitas. Hari Lautan Sedunia merupakan peluang setiap tahun bagi kita menghormati lautan dan hasil yang didapati darinya, seperti makanan laut. Pencemaran laut sudah saatnya dihentikan sebelum spesies kehidupan laut berkurang secara mengejutkan. Ini semua perlu dilakukan untuk mencegah akhir samudera.

–       Semoga taman vertikal dapat dijadikan sebagai solusi kota demi mewujudkan hijaunya lingkungan. Hijau disini diartikan terpenuhinya ruang terbuka hijau, dan bangunan yang hemat energi, tidak berlebihan menggunakan AC.

–       Pembangunan yang terintegrasi jangan hanya memikirkan satu aspek saja seperti ekonomi atau sosial, tetapi segala aspek diperhatikan termasuk berkelanjutan terhadap lingkungan. Pembangunan era sekarang tidak saja melihat keuntungan ekonomi tetapi keuntungan ekologi juga harus diperhatikan. Pembangunan daerah pesisir tidak saja mementingkan pembangunan kawasan pariwisata saja tetapi kegiatan pelestarian terumbu karang juga diperhatikan sehingga pembangunan kawasan pantai terencana dengan terarah dan terpadu. Dalam mencapai hal ini sarana dan media sosialisai diperlukan agar pelaksanaannya baik.

–       Bagi masyarakat sebaiknya membatasi mengkonsumsi ikan laut dalam yang perkembangbiakannya sangat lama dan sebagai gantinya dapat mengkonsumsi ikan lain yang kandungan proteinnya sama dan populasinya melimpah agar populasi ikan seimbang terhadap rantai makanan.

Daftar Pustaka

Keraf, A Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Buku Kompas. Jakarta

Siahaan, N. H. T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Erlangga. Jakarta

Aziz, Iwan J. dkk. 2010. Pembangunan Berkelanjutan – Peran dan Kontribusi Emil Salim. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Jakarta

Yulianingsih, Tri Maya. 2010. Jelajah Wisata Nusantara. Media Pressindo. Yogyakarta.

Purdijatno, Tedjo Edhy. 2010. Mengawal Perbatasan Negara Maritim. Grasindo. Jakarta

Iyam. 2007. Pemeliharaan Terumbu Karang. Bandung: Titian Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s