Mengurangi Pencemaran Udara dengan Teknologi Pembakaran Sel dan Mekanisme Tumbuhan

Mengurangi Pencemaran Udara dengan Teknologi Pembakaran Sel dan Mekanisme Tumbuhan

Fitri Umiati – 12513015

Mata Kuliah – Mikrobiologi Lingkungan

Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,

Universitas Islam Indonesia

email: fitriumiati32@gmail.com

1.   Latar Belakang

Kualitas udara sangat dipengaruhi oleh besar dan jenis  sumber pencemar yang ada seperti dari kegiatan industri, kegiatan transportasi dan lain-lain. Masing-masing sumber pencemar yang berbeda-beda baik jumlah, jenis, dan pengaruhnya bagi kehidupan. Pencemar udara yang terjadi sangat ditentukan oleh kualitas bahan bakar yang digunakan, teknologi serta pengawasan yang dilakukan.

Dalam seminar internasional The Utilization of Catalytic Converter and Unleaded Gasoline for vehicle terungkap bahwa 70% gas beracun yang ada di udara, terutama di kotabesar, berasal dari kendaraan bermotor. Lebih dari 20% kendaraan di Jakarta diperkirakan melepas gas beracun melebihi ambang batas yang dinyatakan aman. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor akan meningkatkan pemakaian bahan bakar gas, dan hal itu akan membawa risiko pada penambahan gas beracun di udara terutama CO, HC, SO2. Pencemaran udara yang diakibatkan oleh polusi sisa pembakaran kendaraan bermotor di Indonesia dari tahun ke tahun memperlihatkan kecenderungan meningkat, tetapi pencegahan dari pemerintah selama ini dinilai berbagai kalangan masih amat kurang. Berbeda dengan standar polusi yang ditetapkan diberbagai negara maju, seperti Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

Sumber pencemaran umumnya dari kegiatan industri pengolahan, transportasi dan rumah tangga. Menurut Setyowidagdo (2000) dari beberapa penelitian yang telah dilakukan ternyata 70% dari total emisi yang dibuang ke udara berasal dari gas buang kendaraan bermotor. Pencemaran udara yang melampaui batas kewajaran akan menimbulkan dampak terhadap makhluk hidup yang hidup di atas bumi ini. Oleh sebab itu, maka perlu kita fahami dampak apa saja yang dapat ditimbulkan oleh pencemaran udara khususnya terhadap tumbuhan. Seiring dengan laju pertambahan kendaraan bermotor, maka konsumsi bahan bakar juga mengalami peningakatan dan berujung pada bertambahnya jumlah polutan yang dilepaskan ke udara. Di Indonesia kurang lebih 70 % pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang memiliki dampak negatif baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungannya.

Pembangunan lebih banyak dicerminkan oleh adanya perkembangan fisik berupa bangunan sarana dan prasarana, misalnya pertokoan, pemukiman, tempat rekreasi dan industri otomotif. Dengan meningkatkan pembangunan tersebut mengakibatkan berkurangnya lahan yang seharusnya untuk penghisapan. Hal tersebut dapat menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan sehingga udara menjadi tercemar dan kotor.

Oleh karena itu, harus ada usaha kita untuk mereduksi pencemaran udara dengan memanfaatkan mekanisme kimia dan lingkungan itu sendiri, yaitu berupa tumbuhan. Kita harus menentukan mekanisme dan karakter kimia yang akan digunakan dalam mereduksi pencemaran udara. Serta kita harus mengetahui mekanisme, kriteria dan klasifikasi tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai pereduksi polutan.

 2.   Tujuan

Tujuan dari studi literatur ini adalah:

Mengidentifikasi usaha dalam mereduksi polutan dengan metode pembakaran sel Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE).

  • Mengidentifikasi proses atau mekanisme reaksi reduksi pencemaran udara oleh MTBE.
  • Mengidentifikasi usaha dalam mereduksi polutan dengan tumbuhan Puring.
  • Mengidentifikasi kriteria dan mengklasifikasi jenis tumbuhan pereduksi polutan.

3.   Metode

3.1 Metode Pembakaran Sel dengan Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE)

Metode ini merupakan mekanisme kimia yang dapat digunakan sebagai cara untuk mereduksi pencemaran udara. Langkahnya metanol yang dihasilkan oleh proses konversi atau sintesa gas bumi merupakan pemanfaatan gas bumi sebagai bahan baku industri petrokimia. Metanol jenis oxygenated fuel dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar sampai tingkat tertentu, diolah lanjut menjadi bahan petrokimia lain seperti Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE) dengan tingkat pencemaran yang lebih rendah.

Keterbatasan jalur pemanfaatan ini adalah terbatasnya penggunaan metanol sebagai pencampur bahan bakar sistem pembakaran sel. Terutama karena pemakaian metanol skala besar sebagai bahan bakar transportasi baru dirintis sebagai salah satu kampanye anti pencemaran, tetapi yang harus dibayar cukup mahal oleh konsumen, yaitu memerlukan perubahan rancang bangun mesin mobil.

Kebutuhan MTBE sebagai pencampur gasoline atau octane booster menggantikan senyawa Tetra Etyl Lead (TEL) yang beracun atau memiliki tingkat pencemaran yang tinggi, juga meningkat cukup pesat.

Bahan bakar yang paling banyak digunakan masyarakat adalah bensin yang mempunyai titik didih 30° C – 200° C. Biasanya, bensin yang diperoleh dari hasil distilasi tidak langsung digunakan karena bensin tersebut akan menyebabkan ketukan (knocking) yang dapat mengurangi tenaga dan menyebabkan keausan mesin. Untuk itu, bensin tersebut harus ditambah zat – zat lain dengan maksud untuk mendapatkan campuran dengan efisiensi pembakaran tinggi.

Efisiensi ini diukur dengan suatu besaran yang disebut bilangan atau angka oktan. Satuan untuk angka oktan adalah RON (Research Octane Number). Angka oktan yang sesuai dengan ketukan manusia dapat mengurangi pencemaran dari hasil pembakaran.

MTBE memiliki tingkat pencemaran lebih rendah dibanding TEL. Bensin mengandung senyawa alkana dengan rantai lurus dan pendek sehingga bilangan oktannya rendah. Untuk meningkatkan bilangan oktan pada bensin, perlu ditambahkan zat aditif. Zat aditif ini dapat berupa TEL dengan rumus molekul Pb (C2H5)4. Penambahan TEL akan menghambat ketukan (knocking) yang nantinya akan berdampak pada tingkat pencemaran. Pembakaran bensin yang mengandung TEL pada mesin, akan menghasilkan partikulat Pb. Logam ini dapat mengganggu kesehatan bila terakumulasi. Gas – gas lain yang dihasilkan pada pembakaran bensin adalah gas CO (Karbon Monoksida) dan CO2  (karbon dioksida).

Jika kadar gas CO di udara melebihi 0,05 ppm akan menyebabkan pencemaran udara. Selain itu, gas CO mempunyai kemampuan terikat lebih kuat dari gas oksigen pada hemoglobin sehingga dapat menghambat aliran oksigen di dalam darah. Gas Co2 mempunyai kemampuan untuk menyerap radiasi inframerah dari bumi kemudian memancarkan kembali radiasi yang diserapnya ke bumi. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan suhu bumi yang sering disebut efek rumah kaca. MTBE dengan rumus kimia CH3 – O – C4H9 mempunyai angkat oktan antara 116 sampai dengan 123 RON, cukup baik sebagai bahan pencampur bensin. Jika dibandingkan dengan TEL, kandungan gas buangnya lebih rendah sehingga pencemaran udara pun lebih rendah.

3.2 Puring sebagai Tanaman Pereduksi Polutan

Tanaman pereduksi polutan seperti tanaman puring sangat berguna sekali untuk di kota – kota besar yang padat kendaraan. Namun, langkah itu kerap diabaikan dalam pembangunan kota. Bahkan pepohonan di tepi jalan seringkali ditebang. Lahannya digunakan untuk membangun gedung-gedung perkantoran atau perniagaan. Padahal, beberapa jenis tanaman terbukti mampu menyerap polutan berbahaya seperti timbal.

Salah satunya adalah tanaman puring. Tanaman ini memiliki jenis daun yang berwarna-warni. Jika terkena sinar matahari, warnanya akan cerah menyala. Kalau kurang asupan sinar matahari, warna daunnya cenderung gelap. Puring merupakan tanaman yang mampu menyerap unsur timah hitam hingga 2,05 mg/liter. Unsur  timah hitam antara lain dalam bentuk timbal yang termasuk logam berat yang dapat merusak otak, ginjal, hati, dan darah. Polutan itu terlihat dalam bentuk asap rokok, bensin, pembakaran kayu, dan uap terpentin. Bahan pencemar udara itu menandung formaldehyde dan karbondioksida.

4.   Cara Kerja

4.1  Metode Pembakaran Sel dengan Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE)

Langkahnya metanol yang dihasilkan oleh proses konversi atau sintesa gas bumi merupakan pemanfaatan gas bumi sebagai bahan baku industri petrokimia. Metanol jenis oxygenated fuel dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar sampai tingkat tertentu, diolah lanjut menjadi bahan petrokimia lain seperti Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE) dengan tingkat pencemaran yang lebih rendah. MTBE dengan rumus kimia CH3 – O – C4H9 mempunyai angkat oktan antara 116 sampai dengan 123 RON, cukup baik sebagai bahan pencampur bensin.

4.2 Puring sebagai Tanaman Pereduksi Polutan

Menghadirkan tanaman di kawasan perkotaan salah satu pilihan untuk meredakan polusi.

 5.  Kesimpulan

–       Mekanisme kimia yang dapat digunakan sebagai cara untuk mereduksi pencemaran udara dengan Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE).

–       Metanol yang dihasilkan oleh proses konversi atau sintesa gas bumi merupakan pemanfaatan gas bumi sebagai bahan baku industri petrokimia. Metanol jenis oxygenated fuel dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar sampai tingkat tertentu, diolah lanjut menjadi bahan petrokimia lain seperti Metil Tertiary Butyl Ether (MTBE) dengan tingkat pencemaran yang lebih rendah.

–       Tanaman pereduksi polutan seperti tanaman puring sangat berguna .

–       Puring merupakan tanaman yang mampu menyerap unsur timah hitam hingga 2,05 mg/liter. Unsur  timah hitam antara lain dalam bentuk timbal yang termasuk logam berat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s